Senin, 02 November 2015

Guru : Fokus mengembangkan karakter

Mapel dan kognitif itu sebenarnya hanyalah sebuah wadah untuk menjalankan pendidikan karakter sehingga ada tema yang perlu dilakukan dalam pembelajaran. Tetapi inti dari pembelajaran itu adalah membangun karakter siswa. Tetapi anehnya yang memiliki nilai evaluasi hanyalah pada nilai kognitif dan keterampilan. Sementara nilai karakter memiliki instrumen penilaian yang cukup sederhana. Sedangkan untuk mencerminkan kebutuhan pembangunan karakter pada sebuah kelas tidak dibangun secara berkesinambungan dengan strategi-strategi yang disesuaikan dengan masalah yang sedang dihadapi. 
Guru saat ini haruslah fokus pada pembangunan karakter. Memberikan motivasi karakter, memberi panduan dalam mempraktekkan karakter baik, memberi tes karakter, sehingga siswa dapat terkuak karakternya, sekaligus memberikan gambaran karakter yang baik untuk mereka. Karakter bukan semata-mata hanya kejujuran, melakukan ibadah, berkata baik, sopan santun. Tetapi menyesuiakan dengan permasalahan yang ada pada lingkungan tersebut. Dengan kasus yang beragam, tetapi memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi akan bisa sangat berpengaruh pada perubahan. Tapi kunci itu semua adalah guru yang saling bersatu membangun dan mengembangkan karakter. 
Ayo Fokus membangun karakter. Guru membangun karakter.

Jumat, 02 Oktober 2015

Strategi Healing The Children Character with Parent Participation

Belajar dari teman, dan dari seorang guru yang pernah saya belajar dengannya. Walau kelihatannya ia kurang bertanggungjawab dengan waktu, tetapi ada kemampuannya yang cukup menarik untuk digali sebagai bahan referensi penyelesaian masalah anak khususnya dalam bidang pendidikan di sekolah.
Berkaitan dengan anak yang sering tidak berangkat, sering bolos, dan kenakalan-kenakalan lainnya. Itu bukanlah sebuah permasalahan yang tidak bisa diselesaikan. Sistematika penyelesaian akan seperti berikut :
1. Pengenalan masalah (awal masalah)
2. Penelusuran masalah
 - Diawali dengan pencecaran pertatanyaan kepada siswa
 Tekniknya : empati, jebakan kalimat, kata, kejujuran, kejadian, dan lain sebagainya
Statemen perubahan juga sangat diperlukan untuk membuat komitmen
Tahapan penyelesaian harus ssesuai dengan sistematika. Jika sudah mengikuti pada tahap awal saja, maka sebenarnya masalah sudah selesai. Tetapi jika sampai pada tahap akhir belum selesai maka strategi Healing the Children Charackter with Parent Participation.
Sebenarnya  partisipasi orang itu wajib dan mutlak. Seorang orang tua tidak bisa menyerahkan saja kepada sekolah untuk menyelesaikan urusan anak.
Orang tua diberikan kewajiban dan komitmen penyelesaian melalui keluarga, dan di sekolah.
Diantara strategi yang ada adalah : orang tua diminta untuk bisa berkomitmen memantau anaknya di sekolah dalam kurun wktu yang ditentukan, waktu yang rutin dan random. Sehingga siswa akan selalu terpantau baik dari orang tua maupun sekolah.
Sebenarnya kejadian ini adalah butuhnya anak sebuah perhatian. Jika orang tua tidak bisa bekerja sama maka sebenarnya pendidikan sudah gagal sejak awal. Dan tidak ada cara penyelesaian masalah. Dan kewajiban sekolah adalah mengembalikan urusan anak kepada orang tuanya. Istilah ini maksudnya adalah mengembalikan siswa kepada orang tua. Dan sekolah melepaskan dari sekolah dan mengembalikan kepada orang tua.
Jika orang tua mau bekerja sama dengan sekolah maka pintu kesuksesan akan mulai terbuka lebar. Hingga semua guru dan orang tua sama-sama tdak mampu menyelesaikan masalahnya.
Wallahualllamubisshowab.

Senin, 28 September 2015

Kartu Sakti Tertib

Sudah berlalu tiga minggu ini saya dipusingkan dengan sikap anak-anak didik saya pada saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Sebenarnya dan seharusnya saya tidak lah harus dipusingkan dengan membuat strategi tindakan kelas saya karena saya hanya guru ekstrakurikuler. Tetapi berhubung tuntutan sekolah harus mengikuti sistematika wajib urutan kegiatan ekstrakurikuler. Selain siswa datang kemudian belajar komputer, kemudian selesai pulang, tetapi ada hal penting dimana ketika kegiatan ekstra harus menabrak waktu sholat, maka kegiatan ekstra pada saat pulangnya wajib mengadakan sholat berjamaah.
Siswa kelas SD khususnya kelas 3 SD cukup sulit untuk diberikan pengertian. Nasihat seperti bukanlah nasihat. Sepertinya anak-anak tidak mengerti apa itu nasihat. Apakah kemudian ketika kita berbicara tentang kebaikan dan kebenaran kemudian mereka langsung memahami ? Sepertinya tidak. 
Maka yang harus berbicara adalah pembiasaan. atau penciptaan budaya, atau penciptaan karakter belajar, proses belajar yang harus dilakukan di kelas guru tertentu. 
Strategi pertama : pada saat proses belajar di kelas komputer
Awalnya dengan jumlah komputer yang terbatas yaitu satu komputer untuk dua orang cukup menyulitkan, karena ketika anak tidak mendapatkan bagian alat sendiri, maka ia lebih suka menyibukkan diri untuk bermain-main atau berjalan-jalan. Ketika materinya tentang ketik mengetik maka kesulitannya adalah waktu yang dibutuhkan harus lebih panjang. Sementara waktu yang saya butuhkan hanya 45 menit bersih atau 1 jam kotor. Maksudnya ? ketika ketika kita mulai jam 14.00, maka kedatangan lengkap siswa bisa dipastikan jam 14.15 karena ada yang piket jadi menghambat waktu anak untuk berangkat lebih awal. 
Tetapi dengan berbagai strategi sudah bisa berhasil tetapi siswa yang menunggu biasanya lebih suka untuk bermain ke sana kemari sehingga bisa mengganggu keadaan kelas. 
Ketika materi diganti dengan materi desain, atau tema untuk kelas 3-5 adalah desain / menggambar dengan corell maka ternyata lebih tepat, karena siswa lebih suka lebih enjoy, lebih tidak tertekan, dan lebih bisa mengembangkan kreatifitas dari pada materi ketik mengetik karena harus menyamakan dengan contoh ketikan. Sementara desain, materi yang disampaikan atau contoh yang disampaikan bisa tidak harus sama, lebih kreatif dan lebih bagus itu malah lebih baik. 
Walau kadang siswa masih ada yang jalan-jalan dan mengganggu temannya. Siswa yang berjalan-jalan dan mengganggu temannya itu adalah salah satu masalah yang harus diselesaikan. 
Maka solusinya : 
Siapkan 2-3 sapu.

Kemudian berikan briefing yang jelas dan semua mendengarkan. Sampaikan aturan main : tetaplah anak diam di depan komputernya masing-masing, Pak gUru akan berjalan memutar mengelilingi seluruh siswa untuk menanyakan kesulitan siswa. Jika ada siswa yang berjalan-jalan maka ada sanksi yang harus dilakukan adalah menyapu ruang lab. Lumayan lab yang biasanya kotor, dan biasanya saya tugaskan untuk selalu membawa sampah minimal 2 ketika pulang menjadi lebih bersih dari biasanya. Walau kadang anak ada yang menyapunya kurang serius, tapi saya lihat paling tidak ada kotoran yang ia tarik keluar sehingga mengurangi debu dan kotoran yang ada di dalam kelas. Ternyata siswa lebih kondusif dan tertib mengikuti pelajaran. Semua berada pada tempatnya. Jika ada yang berjalan, maka siswa bisa kena sanksi kebersihan kelas. Cukup menakutkan ternyata buat siswa. Tapi ada yang cukup meneyenangkan untuk mreka yang terkena sanksi malah kadang ada yang minta disanski membersihkan walaupun tidk melakukan keasalahan. 
Strategi ini saya katakan SUKSES 90 %.

Strategi kedua : pada saat melaksanakan Sholat pasca pelajaran komputer di kelas komputer.
KEtika selesai materi komputer, mereka turun ke mushola untuk melaksanakan sholat ashar. Biasanya anak ketika berpindah dari kelas komputer ke mushola banyak hambatan, diantaranya mereka bisa tidak sampai ke mushola karena main dulu, dll. 
Atau ketika sudah sampai ke musholla merka masih saja bermain lari kesana kemari tidak karuan, jika kita tidak sabar, mungkin kepala kita bisa pusing dibuatnya. 
Eits, sabar maslah belum selesai sampai disitu. ketika kita akan mengadakan sholat bersama, merka pun tak bisa dihentikan dalam shaf yang sudah ditentkan, masih aja yang bergerak ke sana kemari, menggerak-gerakkan badannya, berbicara yang tidak pernah ada habisnya. Ketika Sholat pun siswa belum bisa diam ternyata juga berlari ke sana kemari. Ohhh pusing.... dan terakhir ketika berdizikir dan berdoa masih saja ada yang berbicang-bincang kembali hingga absensi pulang. Ohhh tidak ini makin sulit. 
Strategi kedua ini adalah saya menyiapkan KARTU SAKTI TERTIB. 
Mau tahu bentuknya ? 
Look at this !


Kartu ini saya kasih nomor dan diberi karet untuk ditaruh sebagai gelang. 

Saya saya briefing dulu, ketika nanti selsai komputer, tolong langsung ambil air wudlu, kemduan duduk di shaf dengan rapi lurus. Jika tertib maka saya akn kasih kartu sakti tertib ini. Hingga kamu niat sholat, takbir, hingga selesai, hingga dzikir dan doa tetap tertib. Ketika saya datang dari wudlu Alhamdulillah siswa sudah berjajar dengan baik, maka saya keluarkan aja kartu sakti saya, saya kasihkan satu persatu yang tertib. Saya sampaikan jika tidak punya kartu sakti, maka tidak bisa absen, dan masih kena sanksi membersihkan WC (padahal ini hanya candaan saja) sambil selalu saya ulang-ulang dan ditirukan anak-anak. Kadang saya tambahi " Membersihkan ...." "WC" jawab anak-anak. Saya tambahi yang baunya "Pe..." "Siiiing" Jawab anak-anak dengan semangat. Ternyata cukup ampuh dari awal wudhlu hingga akhir sholat siswa tidak ada yang berani tidak tertib karena takut tidak diberi kartu atau dicabut kartunya. 

Coba anda bisa lebih kreatif, demikian strategi saya.